PEMERIKSAAN AKUNTANSI II
SISTEM PENGUJIAN PENGENDALIAN
TERHADAP TRANSAKSI PENYESUAIAN PENJUALAN
Dosen Pembimbing Wiyonoroto, SE, M.Pd
SEMESTER VI
Pertemuan 3
Disusun Oleh :
Iwuh Kanthil Setiati ( 12.11.00044 )
JURUSAN AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI RAJAWALI
PURWOREJO
TAHUN 2015
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan kasih sayangnya sehingga
dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu. Sebagai eksistensi Kami
sebagai mahasiswa jurusan akuntansi, kususnya dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi ini, Kami berharap dengan dibuatnya
buah pemikiran kami yang berupa makalah Teori Akuntansi.
Tugas ini disusun dengan menggali sumber informasi dari buku
perpustakaan, serta dari media internet, banyak sekali sumber informasi yang
kami dapat, Semoga dapat bermanfaat
serta dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran.
Kami mohon maaf sebesar – besarnya bilamana ada kesalahan dalam
penulisan dan dalam segi penyajian, isi
materi, ataupun dalam tatacara penulisan laporan.
Kami ucapkan banyak terimakasih untuk rekan – rekan yang membantu dalam
penyusunan laporan ini. Banyak maaf dan terimakasi untuk semua pihak.
Purworejo,
12 Februari 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Depan ....................................................................... i
Kata
Pengantar ....................................................................... ii
Daftar Isi .......................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................... i
Tujuan ....................................................................... i
Manfaat ....................................................................... i
BAB II PEMBAHASAN
Jenis Pendapatan
............................................................. 1
Pengendalian Siklus Pendapatan ..............................................................
7
Pengendalian Penyesuaian Penjualan
....................................................... 12
Transaksi Retur Penjualan .............................................................
13
Transaksi Piutang Tak Tretagih ...............................................................
15
Transaksi Potongan harga .........................................................................
22
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ....................................................................... 26
Daftar Pustaka ....................................................................... 27
BAB I
PENDAHULUAN
II.1. Latar Belakang
Seiring dengan
perkembangan jaman, dunia usaha membutuhkan akan keapastian terhadap kemajuan
usahanya. Perusahaan selalu menginginkan kemajuan yang berarti dari
perusahaanya tersebut.
Kemajuan sebuah
perusahaan berasal dari usaha manajemen untuk mewujudkananya. Oleh karena usaha
yang di lakukan oleh manajemen salah satunya dengan menjalankan sebuah Sistem
Pengendalian Intern manajemen. Pengendalian tersebut dalah sebuah rangkaian
tata cara, aturan , sistem untuk mengorganisasi seluruh komponen yang ada guna
mengelola segala sumber daya perusahaan, agar terhindar dari aktifitas yang
tidak efektif dan tidak berdaya guna.
Pengedalian
internal membantu manajemen untuk merencanakan dan mengatur tindakan perusahaan
kedepannya. Agar segala tindakan tidak menimbulkan kerugian yang berarti.
Pengendalian juga dapat berupa peraturan , tata tertib dari sebuah perusahaan.
Oleh karena itu untuk mewujudkan sistem pengendalian yang baik tidak hanya
dilakukan oleh kalangan eksekutf, namun hal tersebut adalah kerja sama seluruh
komponen perusahaan.
II.2.
Tujuan Kegiatan
1.
Mengetahui apa itu sistem pengendalian
2.
Mengetahui seberapa jauh lingkup sistem
pengendalian tersebut dalam transaksi penjualan
3.
Mahasiswa dapat mengaplikasikan dalam
kehidupan nyata
II.3.
Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian sistem pengendalian
2. Adakah
tujuan sebuah perusahaan menjalankan sebuah aktifitas pengendalian
3. Bagaimana
alur dari sistem pengendalian siklus pendapatan
4. Bagaimana
alur sistem pengendalian dari transaksi penyesuaian penjualan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Transaksi Penyesuaian Penjualan
Siklus pendapatan perusahaan terdiri dari dengan
pertukaran barang dan jasa dengan pelanggan dan penagihan pendapatan dalam
bentuk kas. Transaksi penjualan mengakibatkan transfer kekayaan kepada pihak lain dan mengakibatkan
terbentuknya aktiva baru berupa kas atau piutang dagang. Meskipun demikian
harus disadari bahwa proses penjualan tidak selalu mengakibatkan terbentuknya
aktiva baru, mengingat dalam penjualan serin terjadi kegagalan atu pembatalan
ari pihak pelanggan oleh karena itu dalam siklus pendapatan ditemukan adanya
transaksi penyesuaian penjualan ( sales adjusment ) . Dimana siklus pendapatan
dapat terbentuk dari transaksi :
-
Penjualan (
kredit ataupun tunai )
-
Penerimaan Kas (
penagihan piutang dan penjualan tunai )
-
Penyesuaian
Penjualan ( potongan penjualan, retur penjualan dan pengurangan harga, serta
piutang tak tertagih )
Ketiga siklus transaksi tersebur secara bersama –
sama membentuk siklus pendapatan . rekening – rekening yang terkait dengan
siklus pendapatan meliputi :
-
Penjualan ( sales
)
-
Kos Penjualan (
cost of sales )
-
Kas ( cash )
-
Piutang Dagang (
account receivable )
-
Persediaan (
inventory )
-
Potongan
Penjualan
-
Pencadangan
kerugian piutang
TUJUAN
AUDIT TERHADAP SIKLUS PENDAPATAN
Tujuan audit untuk siklus pendapatan berkaitan
dengan perolehan bukti kompeten yang mencukupi tentang setiap asersi laporan
keuangan yang signifikan menyangkut saldo dan transaksi siklus pendapatan.
Dimana asersi tersebut menunjukan derajat tanggung jawab menajemen terhadap
informasi keuangan secara eksplisit dinyatakan dalam laporan keuangan.
Dibawah
ini akan dijelaskan mengenai tujuan audit terdap asersi manajemen :
|
Kelompok
Asersi
|
Tujuan
Audit terhadap golongan transaksi
|
Tujuan
Audit terhadap Saldo Akun
|
|
Keberadaan atau kerterjadian
|
Transaksi penjualan kredit dan
tunai mencerminkan produk yang diserahkan kepada costumer selama periode
akuntansi.
Transaksi penyesuaian penjualan
mencerminkan pengurangan penjualan karena retur penjualan , pencadangan kerugian piutang,
dan penghapusan piutang yang diotorisasi selama periode tertentu.
|
Piutang usaha mencerminkan
jumlah yang terutang oleh customer yang ada pada tanggal neraca.
|
|
Kelengkapan
|
Semua transaksi penjualan dan
peyesuaian terhadap penjualan yang terjadi selama periode akuntansi telah
tercatat
|
Piutang usaha mencakup semu
klaim kepada customer pada tanggal neraca
|
|
Hak dan Kewajiban
|
Entitas memiliki hak atas
piutang usaha dan kas sebagai hasil dari transaksi dalam siklus pendapatan
|
Piutang usaha pada tanggal
neraca mencerminkan klaim resmi entias kepada customer
|
|
Penilaian dan Alokasi
|
Semua transaksi penjualan dan
penyesuaian penjualan telah dicatat dalam jurnal, diringkas, dan diposting ke
dalam akun dengan benar
|
Piutang usaha mencerminkan
klaim yang baik pada tanggal neraca dan sesuai dengan jumlah buku pembantu
piutang.
Cadangan kerugian piutang
mencerminkan estimasi yang masuk akal beda antara jumlah piutang bruto dengan
nilai piutang usaha bersih yang dapat direalisasikan
|
|
Penyajian dan Pengungkapan
|
Rincian transaksi penjualan dan
penyesuaian penjualan mendukung penyajian angka penjualan dan piutang usaha
dalam laporan keuangan , baik klasifikasinya maupun pengungkapan
|
Piutang usaha diidentifikasi
dan diklasifikaso dengan semestinya dalam neraca
Pengungkapan memadai telah
dibuat berkaitan dengan piutang usaha yang digadaikan atau dianjakan.
|
Pemahaman
Terhadap Striktur Pengendalian intern

Sistematika Uraian Perancangan Progam Audit yang membentuk siklus pendapatan
1.
Fungsi terkait
2.
Dokumen
3.
Catatan akuntansi
4.
Bagan alir sistem informasi akuntansi
5.
Salah saji potensial, aktivitas
pengendalian yang diperlukan, dan prosedur audit
6.
Penjelasan aktivitas pengendalian yang
diperlukan
7.
Penyusunan progam audit untuk pengujian
pengendalian terhadap transaksi yang bersangkutan
8.
Penjelasan progam audit untuk pengujian pengendalian
terhadap transaksi yang bersangkutan
Pengendalian
Intern terhadap Transaksi Penjualan Kredit
· Surat pengakuan (acknowledgment copy).
Dokumen ini dikirim oleh fungsi penjualan kepa costumer untuk memberi tahu
bahwa ordernya telah diterima dan dalam proses pengiriman.
· Surat muat (bill of lading). Tembusan surat muat ini
merupakan dokumen yang digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari
perusahaan kepada perusahaan angkutan umum.
· Slip pembungkus
(packing slip). Dokumen ini
ditempelkan pada pembungkus barang untuk memudahkan fungsi penerimaan customer
mengidentifikasi barang-barang yang diterimanya.
· Tembusan gudang
(warehouse copy). Merupakan tembusan
surat order pengiriman yang dikirim ke fungsi gudang untuk menyiapkan jennis
barang dengan jumlah seperti yang tercantum di dalamnya.
· Arsip pengewasan pengiriman
(saless order follow- up copy).
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan oleh fungsi penjualan
menurut tanggal pengiriman yang dijanjikan.
· Arsip indeks silang
(cross-index file copy). Merupakan
tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan secara alfabetik menurut nama
costumer untuk memudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari costumer.
Faktur penjualan
merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar untuk mencatat timbulnya piutang.
Berbagai tembusan faktur penjualan terdiri dari:
1. Faktur
penjualan (customer’s copies)
Dokumen ini merupakan lembar
pertama yang dikirim kepada customer.
2. Tembusan
piutang (account receivable copy)
Merupakan tembusan faktur penjualan
yang dikirim ke fungsi pencatat piutang sebagai dasar untuk mencatat piutang
dalam buku pembantu piutang.
3. Tembusan
jurnal penjualan (sale journal copy)
Merupakan tembusan yang dikirim ke
fungsi akuntansi umum sebagai dasar untuk mencatat transaksi penjualan ke dalam
jurnal penjualan.
4. Tembusan
analisis (analyis copy)
Merupakan tembusan yang dikirim ke
fungsi akuntansi biaya sebagai dasar untuk menghitung kos produk yang dijual
yang dicatat dalam buku pembantu sadiaan, untuk analisis, dan untuk perhitungan
komisi wiraniaga.
5. Tembusan
wiraniaga (salesperson copy)
Dikirim kepada wiraniaga untuk
memberitahu bahwa order dari costumer yang lewat di tangannya telah dipenuhi
sehingga memungkinkannya menghitung komisi penjualan yang menjadi haknya.
Catatan
Akuntansi yang Digunakan dalam transaksi Penjualan Kredit
·
Jurnal
penjualan. Dalam transaksi penjualan kredit, catatan ini
digunakan untuk mencatat transaksi penjualan kredit berdasarkan dokumen sumber
faktur penjualan.
Piutang
Usaha xx
Pendapatan
Penjualan xx
·
Jurnal
umum.
Dalam transaksi penjualan kredit, catatan ini digunakan untuk mencatat kos
produk yang dijual berdsarkan dokumen bukti memorial.
Kos Produk yang Dijual xx
Sediaan
Produk Jadi xx
·
Buku
pembantu piutang. Dalam transaksi penjualan kredit,
catatan ini berfungsi sebagai buku pembantu yang digunakan untuk mencatat
bertambahnya piutang kepada debitur tertentu berdasarkan dokumen sumber faktur
penjualan.
·
Buku
pembantu sediaan. Dalam transaksi penjualan kredit,
catatan ini berfungsi sebagai buku pembantu yang digunakan untuk mencatat kos
produk jadi tertentu yang dijual berdasarkandokumen sumber faktur penjualan.
·
Buku
besar. Akun buku besar yang terkait dalam siklus
pendapatan adalah: piutang usaha, pendapatan penjualan, kos produk yang dijual,
dan sediaan produk jadi
Aktivitas pengendalian yang dapat
mencegah dan mendeteksi salah saji dalam transaksi penjualan kredit mencakup :
1. Penggunaan
surat order penjualan yang diotorisasi untuk setiap penjualan.
2. Fungsi
pemberi otorisasi kredit mengecek semua customer
baru.
3. Penentuan
bahwa customer berada dalam daftar customer yang telah disetujui.
4. Pengecekan
batas kredit sebelum penjualan kredit dilaksanakan.
5. Barang
dikeluarkan dari gudang hanya atas dasar surat order pengiriman yang telah
diotorisasi.
6. Pengecekan
barang yang dikirim dengan surat order pengiriman.
7. Pemisahan
fungsi pengiriman barang dan penjualan barang.
8. Pembuatan
dokumen pengiriman untuk setiap pengiriman barang.
9. Seiap
faktur penjualan harus dilampiri dengan surat order pengiriman yang telah
diotorisasi.
10. Pencocokan
faktur penjualan dengan dokumen pengiriman.
11. Pertanggungjawaban
secara periodik dokumen pengiriman.
12. Pengecekan
independen terhadap pemberian harga dalam faktur penjualan.
13. Setiap
pencatatan harus dilandasi dokumen sumber faktur penjualan dan dokumen
pendukung yang lengkap.
14. Pengecekan
secara independen posting ke dalam
buku pembantu piutang dengan akun control piutang dalam buku besar.
15. Pertanggungjawaban
semua faktur penjualan secara periodic.
16. Panduan
akun dan review terhadap pemberian kode akun.
17. Pengiriman
pernyataan piutang bulanan kepada debitur.
Aktivitas
pengendalian terhadap sistem pengendalian dan pengujian sistem pendapatan
1) Penggunaan surat order penjualan
yang diotorisasi untuk setiap penjualan. Sebagai awal
kegiatan penjualan, fungsi penjualan mengisi formulir surat order pengiriman
untuk memungkinkan berbagai pihak pemberi otorisasi kredit, fungsi penyimpanan
barang, fungsi pengiriman barang, dan fungsi pencatatan penjualan melaksanakan
pemenuhan order yang diterima dari customer.
2) Fungsi pemberi otorisasi kredit
mengecek semua customer baru. Semua
customer baru harus dicek
kelayakannya untuk dapat diberi kredit dengan cara mencari ninformasi yang
berkaitan dengan kemampuan dan keandalannya untuk dapat diberi kredit.
3) Penentuan bahwa customer berada dalam daftar customer
yang telah disetujui. Penjualan
kredit mengandung resiko tidak tertagihnya piutang. Untuk berada didalam
daftar, customer harus memenuhi
kriteria tertentu misalnya kemampuan dan keandalan keuangan customer yang ditetapkan fungsi pemberi
otorisasi kredit.
4) Penjualan batas kredit sebelum
batas kredit dilaksanakan bagi customer lama, untuk mengurangi resiko tidak tertagihnya piutang,
penjualan kredit hanya dapat dilaksanakan jika fungsi pemberi otorisasi kredit
telah melakukan pengecekan apakah bats kredit maksimum untuk customer tertentu telah dilampaui.
5) Barang dikeluarkan dari gudang
hanya atas dasar surat order pengiriman yang telah diotorisasi. Fungsi
ini hanya dapat melakukan pengeluaran barang jika mendapat perintah dari fungsi
penjualan dalam surat order pengiriman barang yang diotorisasi oleh fungsi
penjualan tersebut.
6) Pengecekan barang yang dikirim
dengan surat order pengiriman. Kecermatan jenis,
spesifikasi, kualitas, dan kuantitas barang yang dikirim kepada customer dapat dijamin dengan melakukan
kegiatan pengecekan barang yang dkirim dengan informasi mengenai jenis, spesifikasi,
kualitas, dan kuantitas barang sebagaimana yang tercantum dalam surat order
pengiriman.
7) Pemisahan fungsi pengiriman barang
dari fungsi penjualan. Dalam transaksi penjualan, fungsi
penjualan mempunyai kecenderungan untuk menjual barang sebanyak-banyaknya, yang
seringkali mengabaikan dapat ditagih tidaknya piutang yang timbul dari
transaksi tersebut. Dengan dipisahkannya fungsi penjualan dari fungsi pemberi
otorisasi kredit, risiko tidak tertagihnya pituang dapat dikurangi.
8) Pembuatan dokumen pengiriman untuk
setiap pengiriman barang. Sebagai bukti telah dilaksanakannya
pengiriman barang, fungsi pengiriman membubuhkan tanda tangan otorisasi dan cap
“sudah dikirim” pada copy surat order
pengiriman.
9) Setiap faktur penjualan harus
dilampiri dengan surat order pengiriman yang telah diotorisasi dan dokumen
pengiriman. Agar menjadi dokumen sumber yang andal.
Dokumen sumber ini harus dilampiri dengan dokumen pendukung: (1) surat order
pengiriman yang telah diotorisasi oleh fungsi penjualan dan (2) dokumen pengiriman
(berupa copy surat order pengiriman
yang telah dibubuhi cap “sudah dikirim” dan tanda tangan fungsi pengiriman
serta surat muat).
10) Pencocokan faktur penjualan dengan
dokumen pengiriman. Untuk menjamin kelengkapan informasi
yang dicantumkan dalam faktur penjualan, perlu ada aktivitas pencocokan
informasi yang dicantumkan dalam faktur penjualan dengan informasi yang
tercantum dalam copy surat order
pengiriman dan surat muat (bill of lading).
11) Pertanggungjawaban secara periodik
dokumen pengiriman. Untuk menjamin bahwa semua barang yang
telah dikirim ke customer telah
dibuatkan penagihan melallui pembuatan dan pengiriman faktur penjualan, secara
periodik perlu diadakan pertanggungjawaban dokumen pengiriman dengan
mencocokkan jumlah barang yang telah dikirim dengan yang telah dibuatkan faktur
penjualannya.
12) Pengecekan independen terhadap
pemberian harga dalam faktur penjualan. Kebenaran jumlah
piutang yang ditagihkan kepada customer ditagihkan kepada customer dan harga per satuan yang resmi
berlaku. Oleh karena itu, untuk menjamin keakuratan jumlah rupiah yang
ditagihkan kepada customer, perlu
dilakukan pengecekan independen terhadap pemberian harga satuan dalam faktur
penjualan.
13) Setiap pencatatan harus dilandasi
dokumen sumber faktur penjualan dan dokumen pendukung yang lengkap. Transaksi
penjualan kredit yang diacatat dalam jurnal penjualan dan buku pembantu
piutang harus didasarkan pada faktur
penjualan yang telah diotorisasi oleh fungsi penagihan dan dilampiri dengan copy surat order pengiriman yang telah
diotorisasi oleh fungsi pengiriman dan surat muat (bill of lading) jiika barang dikirimkan kepada customer dengan menggunakan jasa angkutan luar.
14) Pengecekan secara independen posting ke dalam buku pembantu piutang
dengan akun kontrol piutang dalam buku besar. Dalam
pencatatan piutang, dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan
piutang adalah faktur penjualan, bukti kas masuk, memo kredit, dan bukti
memorial. Data dari dokumen sumber ini dicatat melalui dua jalur
(1) dicatat kedalam jurnal dan
kemudian diringkas ke dalam akun control piutang dalam buku besar,
(2) dicatat dalam buku pembantu
piutang sebagai rincian akun kontrol piutang yang tercantum dalam buku besar.
Dengan demikian untuk mengecek ketelitian data akuntansi yang dicatat di akun
kontrol piutang di dalam buku besar, aktivitas pengendalian mengharuskan secara
periodic diadakan rekonsiliasi antara buku pembantu piutang dengan akun kontrol
piutang dalam buku besar.
15) Pertanggungjawaban semua faktur
penjualan secara periodik. Untuk menjamin bahwa semua faktur
penjualan yang dibuat selama periode akuntansi tertentu telah dicatat ke dalam
jurnal penjualan dan buku pembantu piutang, secara periodik fungsi penagihan
harus mempertanggungjawabkan semua faktur
penjualan yang dibuat selama periode akuntansi tertentu dan memeriksa
apakah semua faktur penjualan tersebut telah dicatat ke dalam catatan akuntansi
semestinya.
16) Panduan akun dan review terhadap
pemberian kode akun. Ketersediaan buku panduan kode akun dan
review terhadap pemberian kode akun pada saat pembuatan dokumen sumber menjamin
keakuratan posting sehingga asersi
penyajian dan pengungkapan menjadi andal.
17) Pengiriman pernyataan piutang
bulanan kepada debitur. Aktivitas pengendalian ini
diciptakan dengan cara pengecekan secara periodik ketelitian catatan akuntansi
yang diselenggarakan oleh perusahaan dengan catatan akuntansi yang
diselenggarakan oleh pihak luar yang bebas. Untuk mengecek ketelitian catatan
piutang entitas, secara periodik fungsi pencatatan piutang diharuskan membuat
pernyataan piutang dan mengirimkannya
kepada debitur yang bersangkutan. Dengan cara ini data yagn dicatat dalam buku
pembantu piutang dicek ketelitiannya oleh debitur yang bersangkutan, sehingga
pengiriman secara periodik pernyataan putang ini akan menjamin ketelitian data
akuntansi yang dicatat oleh perusahaan.
Penyusunan
Program Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi Penjualan Kredit
Berdasarkan daftar prosedur audit yang
dapat digunakan oleh auditor untuk melakukan pengujian pengendalian terhadap
transaksi penjualan kredit, dapat disusun program audit untuk pengujian
pengendalian terhadap transaksi penjualan kredit. Berbagai prosedur audit
diklasifikasikan kembali menurut asersi yang dituju: keberadaan atau
keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
Penjelasan Program
Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi Penjualan Kredit
Lakukan pengamatan terhadap prosedur
persetujuan penjualan, pengiriman barang, penagihan, dan pengiriman pernyataan
piutang. Pengamatan ini ditujukan untuk membuktikan:
(1) adanya
pemisahan tiga fungsi pokok: fungsi operasi, fungsi penyimpanan, dan fungsi akuntansi
dalam penanganan system penjualan kredit,
(2) setiap
transaksi penjualan kredit dilaksanakan oleh lebih dari unit organisasi
sehingga tercipta adanya pengecekan intern dalam setiap pelaksanaan transaksi
tersebut.
Dalam pengamatan terhadap pelaksanaan
transaksi penjualan kredit ini auditor melakukan pengamatan terhadap:
1. Persetujuan
surat order pengiriman yang dilaksanakan oleh fungsi penjualan.
2. Pengiriman
barang yang dilaksanakan oleh fungsi pengiriman barang.
3. Penagihan
customer yang dilaksanakan oleh fungsi.
4. Pengiriman
pernyataan piutang bulanan dan penindaklanjutan keluhan dari customer yang dilaksanakan oleh fungsi
pencatatan piutang.
Dalam memeriksa bukti dikirimkannya
secara periodik surat pernyataan puitang kepada debitur auditor dapat
memperoleh informasi dengan cara:
1. Memeriksa
arsip tembusan surat pernyataan piutang, jika arsip semacam ini diselenggarakan
oleh klien.
2. Memeriksa
arsip korespondensi antara klien dengan debiturnya.
Ambil sampel transaksi penjualan dari
jurnal penjualan dan lakukan pemeriksaan terhadap dokumen pendukung. Aktivitas
pengendalian yang diperiksa oleh auditor dalam pemeriksaan terhadap faktur
penjualan tersebut adalah :
1. Penggunaan
formulir faktur penjualan yang bernomor urut tercetak.
2. Adanya
pertanggungjawaban penggunaan formulir faktur penjualan yang bernomor urut
tercetak tersebut.
3. Tanda
tangan atas faktur penjualan dari yang berwenang.
4. Kesesuaian
informasi yang dicantumkan dalam faktur penjualan dengan informasi yang
tercantum dalam dokumen pendukungnya (misalnya informasi nama customer, nama dan spesifikasi barang,
kuantitas yang dikirmkan, dan susunan barang)
5. Kelengkapan
dokumen pendukung faktur penjualan (surat order pengiriman dan surat muat)
6. Tanda
tangan otorisasi atas dokumen pendukung dari yang berwenang.
7. Kesesuaian
harga jual, syarat penjualan, dan potongan yang tercantum dalam faktur
penjualan dengan peraturan yang berlaku mengenai hal tersebut.
8. Ketelitian
pencatatan informasi yang tercantum dalam faktur ke dalam buku pembantu piutang
dan jurnal penjualan.
AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI
PENYESUAIAN PENJUALAN
Aktivitas
pengendalian bermanfaat dalam mengurangi resiko penyelewengan yang berfokus
pada validitas, atau eksistensi atau kejadian transaksi seperti pembuktian
adanya transakasi retur penjualan , dan menghindari adanya transaksi fiktif
atas penyesuaian penjualan yang mencakup hal – hal berikut ini :
a. Otorisasi
yang tepat atas transaksi penyesuaian penjuanlan
b. Perhitungan
atau pengecekan independen atas barang yang diretur
c. Penggunaan
dokumen dan catatan yang tepat
d. Pemisahan
tugas untuk masing – masing bagian
e. Adanya
pengawasan dalam pencatatan transaksi
Dalam transaksi
penyesuaian penjualan meliputi beberapa macam transaksi seperti
1. Retur
penjualan dan pengurangan harga
2. Penghapusan
piutang
3. Potongan
penjualan
1.
RETUR PENJUALAN & PENGURANGAN HARGA
Definisi Retur Penjualan
Barang dagangan yang diterima
kembali oleh pihak pemasok / penjual atas pengembalian barang dari pihak
pengorder karena suatu sebab tertentu, seperti barang yang diterima rusak atau
cacat, barang tidak sesuai pesanan.
Tujuan progam
audit untuk pengujian pengendalian Transaksi Retur Penjualan adalah
Fungsi Terkait
-
Fungsi
Penjualan
Memberikan otorisasi retur penjualan dengan
dokumen memo terkait
-
Fungsi
Gudang
-
Menyimpan kembali
barang yang dikembalikan oleh costumer melalaui fungsi penerimaan barang
-
Fungsi
Piutang
Mencatat berkurangnya piutang karena transaksi
retur penjualan
-
Fungsi
Akuntansi Biaya
Mencatat bertambahnya kos produk jadi yang dijual
dalam buku pembantu persediaan
-
Fungsi
Akuntansi Umum
Mencatat transaksi retur penjualan dalam jurnal
umum
-
Fungsi
Penerimaan Barang
Menerima kembali barang yang berasal dari
transaksi retur penjualan tersebut
Dokumen terkait : memo kredit, laporan
penerimaan barang
Catatan Akuntansi Transaksi Retur Penjualan
-
Jurnal Penjualan Tunai
Kas x
x x
Penjualan x
x x
-
Pencatatan retur barang dengan pembayaran secara Tunai
Retur penjualan x x x
Kas x
x x
-
Jurnal Penjualan kredit
Piutang dagang x
x x
Penjualan x
x x
-
Pencatatan retur barang dengan pembayaran secara kredit
Retur
pejualan & potongan penjualan x x x
Piutang
dagang x x x
Contoh Soal :
Tanggal 1jan’2009 PT VIVAS menjual barang pada PT SAVIO Rp.1000.000,00
dengan termin 2/10,n/30. Pada tanggal 5jan’ barang senilai Rp.100.000,00
dikembalikan karena rusak. Tanggal 11jan’ PT SAVIO melunasi utang sebesar saldo
tagihannya.
Buatlah pencatatan yang dibutuhkan dari transaksi tersebut diata :
a. Jurnal Penjualan Kredit
1/01/09 piutang dagang 1.000.000
Penjualan 1.000.000
b. Jurnal Retur penjualan & pengurangan harga ( 1.000.000 –
100.000 = 900.000 )
5/01/09 retur dan potongan
tunai 100.000
Piutang dagang 100.000
c. Jurnal Pelunasan Piutang (2/10, n/30 = 2% x 900.000 = 12.000)
11/01/09 kas 882.000
Potongan tunai 12.000
Piutang
dagang 900.000
-
Jumlah piutang =
1.000.000 – 100.000 ( retur ) =
900.000
-
Potongan harga termin 2/10,
n/30
Potongan 2%, bilamana pembayaran dalam jangka waktu 10hari dari tgl
pembelian, dengan jangka waktu kredit 30hari.
= 2% * 900.000 =
12.000 (potongan tunai)
Total piutang 900.000 –
12.000 = 882.000 (jmlah pelunasan piutang)
2. SISTEM
PENGUJIAN & PENGENDALIAN TERHADAP PIUTANG TAK TERTAIGH
2.1.Pengertian Piutang
Piutang Usaha (Account Receivable) timbul akibat adanya
penjualan kredit. Sebagian besar perusahaan menjual secara kredit agar dapat
menjual lebih banyak produk atau jasa.
Menurut Soemarso (2004:338)
yang dimaksud dengan Piutang yaitu : “Piutang merupakan kebiasaan bagi
perusahaan untuk memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada para pelanggan
pada waktu melakukan penjualan. Kelonggaran-kelonggaran yang diberikan biasanya
dalam bentuk memperbolehkan para pelanggan tersebut membayar kemudian atas
penjualan barang atau jasa yang dilakukan.”
Menurut Kieso dan Weygandt mendefinisikan pengertian piutang
sebagai berikut :“Receivables are claims held against
customers and others for money, goods, or services.”
Menurut Warren Reeve dan Fess (2005:404)
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan piutang adalah sebagai berikut : ”Piutang
meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu,
perusahaan atau organisasi lainnya”.
Menurut Mulyadi (2002 : 87) “piutang
merupakan klaim kepada pihak lain atas uang, barang, atau jasa yang dapat
diterima dalam jangka waktu satu tahun, atau dalam satu siklus kegiatan
perusahaan”.
“Piutang adalah penagihan yang timbul
karena penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan normal
perusahaan.” (Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) 2004:19)
Dari beberapa pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa piutang merupakan hak atau klaim perusahaan terhadap klien
atau pelanggan atas barang atau jasa yang telah diberikan.
2.2. Klasifikasi
Piutang
Pengklasifikasian piutang dilakukan untuk memudahkan pencatatan
transaksi yang mempengaruhinya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2007 : 451)
mengemukakan bahwa menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan ke dalam dua
(2) kategori yaitu: piutang usaha dan piutang lain-lain (non usaha). Piutang
usaha timbul karena penjualan produk atau jasa dalam rangka kegiatan normal
usaha, sementara piutang yang timbul di luar kegiatan normal usaha digolongkan
sebagai piutang lain-lain.
2.3
Pengakuan Piutang
Pengakuan
piutang usaha terjadi jika perusahaan menjual produk secara kredit atau memberi
jasa namun belum terjadi pembayaran kepada perusahaan.
Istilah pengakuan itu sendiri
mengandung arti “proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur
serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laporan laba rugi”. (Ikatan
Akuntansi Indonesia 2004:19).
Pengakuan piutang usaha sering
berhubungan dengan pengakuan pendapatan. Karena pengakuan pendapatan pada
umumnya dicatat ketika proses menghasilkan laba telah selesai dan kas
terealisasi atau dapa direalisasi, maka piutang yang berasal dari penjualan
barang umumnya diakui pada waktu hak milik atas barang beralih ke pembeli.
Karena saat peralihan hak dapat bervariasi sesuai dengan syarat-syarat
penjualan maka piutang lazimnya diakui pada saat barang dikirimkan ke
pelanggan. Sedangkan piutang untuk jasa kepada pelanggan semestinya diakui pada
saat jasa itu dilaksanakan.
Berikut ini adalah pengakuan atau
pencatatan ayat jurnal transaksi-transaksi yang berhubungan dengan piutang :
a. Transaksi penjualan kredit barang dan
jasa kepada pelanggan.
Piutang
usaha xxx
Pejualan/pendapatan
jasa xxx
b. Transaksi retur penjualan.
Retur
penjualan dan pengurangan
harga xxx
Piutang
usaha xxx
c. Transaksi penerimaan kas dari debitur.
Kas xxx
Piutang Usaha xxx
2.4 Metode Pencatatan Piutang
Pencatatan piutang dilakukan di
oleh petugas bagian kartu piutang, dan petugas bagian jurnal, dan buku besar.
Buku-buku yang diperlukan terdiri atas buku jurnal penjualan, jurnal penerimaan
kas, jurnal umum, buku besar, dan kartu piutang sebagai buku pembantu. Pencatatan piutang dapat dilakukan
dengan salah satu dari metode berikut ini:
1. Metode Konvesional, dalam metode ini posting kedalam kartu
piutang dilakukan atas dasar data yang dicatat dalam jurnal.
2. Metode Posting Langsung, metode ini dibagi menjadi dua golongan
berikut ini:
a. Metode Posting
Harian :
1. Posting langsung ke dalam kartu piutang dengan tulisan
tangan; jurnal hanya menunjukkan jumlah total harian saja (tidak rinci).
2. Posting lansung ke dalam kartu piutang dan pernyataan
piutang.
b. Metode Posting Periodik.
1. Posting ditunda.
2. Penagihan bersiklus (cycle billing).
3. Metode
Pencatatan Tanpa Buku Pembantu (ledgerless bookeping), dalam metode ini Faktur penjualan
beserta dokumen pendukungnya yang diterima dari bagian penagihan, oleh bagian
piutang diarsippkan menurut nama pelanggan dalam arsip faktur yang belum bayar
(unpaid invoice file).
4. Metode
Pencatatan Piutang Dengan Komputer.
2.5 Pengelolaan Piutang
Dalam perjalanannya sebuah perusahaan
memiliki dua sasaran yang saling bertentangan mengenai piutang. Disatu pihak
perusahaan ingin melakukan sebanyak mungkin penjualan kredit guna memperluas
pangsa pasar. Namun disisi lain piutang merupakan aktiva yang tidak produktif,
yang tidak menghailkan pendapatan (kas) hingga saat penagihannya terlunasi. Dan
semuanya itu akan teratasi dengan adanya pengelolaan piutang yang baik antara
lain :
·
Kebijaksanaan kredit
(standar kredit/kualitas rekening yang diterima, jangka waktu /periode kredit
yang diberikan, discount/potongan tunai yang diberikan untuk pembayaran yang
lebih awal.
·
Kebijaksanaan
pengumpulan piutang, dan faktor-faktor lain
yang relevan. keputusan kredit ini menyangkut tradeoff antara keuntungan (marginal
profit) dan biaya tambahan (marginal
cost) yang disebabkan oleh
perubahan dalam salah satu atau kombinasi elemen-elemen tersebut.
2.6 Resiko Piutang
Dalam pelaksanaannya perusahaan dihadapkan pada beberapa resiko.
Ketika sebuah perusahaan menjual barang dan atau jasa secara kredit, maka
beresiko menimbulkan kegagalan dalam penagihan piutang tepat waktu atau mungkin
menimbulkan kegagalan menagih piutang tepat jumlah. Berikut ini merupakan
resiko-resiko yang berkaitan dengan piutang, adalah :
·
Kegagalan untuk menagih
pelanggan
·
Kesalahan dalam penagihan
·
Kesalahan dalam memasukan
data ketika memperbarui piutang usaha
·
Pencurian kas
·
Kehilangan data
·
Kinerja yang buruk
2.7. Metode Penghapusan Piutang
Menurut Zaki Baridwan dalam bukunya
Intermediate Accounting (2004, 127) : “Metode penghapusan piutang adalah
piutang usaha yang tidak mungkin dapat ditagih, seperti debiturnya bangkrut,
meninggal, pailit dan lain-lain harus dihapuskan sehingga akan menjadi biaya
bagi perusahaan”.
Untuk mencatat penghapusan piutang usaha tersebut dapat dilakukan
dengan dua metode, yaitu
1. Metode Penghapusan Langsung (Direct
Methode)
Metode ini biasanya digunakan pada perusahaan-perusahaan yang
berskala kecil atau dapat juga diterapkan pada perusahaan yang tidak dapat
menaksirkan kerugian piutang usaha dengan tepat. Pada akhir periode akuntansi
tidak dilakukan perhitungan taksiran kerugian piutang, tetapi kerugian piutang
baru dicatat apabila telah pasti tidak dapat ditagih. Sehingga piutang tersebut
akan dihapuskan dan dibebankan pada perkiraan kerugian piutang dan
mengkreditkan piutang usaha.
Apabila pelanggan membayar kembali piutang yang telah dihapus
oleh perusahaan sebelum tutup buku, maka piutang yang telah dikreditkan
sebelumnya didebetkan kembali dan beban pada kerugian piutang dikreditkan oleh
perusahaan. Sehingga nilai piutang pelanggan tersebut muncul dan akan
dikreditkan kembali pada saat pembayaran piutang tersebut.
Lain halnya jika pelanggan membayar piutang yang telah
dihapuskan oleh perusahaan setelah tutup buku. Perusahaan akan mendebetkan
piutang pelanggan tersebut dan mengkreditkan nilai piutang tersebut sebagai
pendapatan lain-lain. Pada saat pembayaran piutang oleh pelanggan maka piutang
tersebut akan dikreditkan kembali.
2. Metode Cadangan (Allowance
Method)
Metode ini digunakan oleh perusahaan berskala besar, dimana
perusahaan sudah membuat estimasi atau perkiraan mengenai kerugian piutang yang
akan diterima akibat tidak dapat ditagih seluruhnya. Suatu estimasi dibuat
menyangkut perkiraan piutang tak tertagih dari semua penjualan kredit atau dari
total piutang yang beredar. Estimasi ini dicatat sebagai beban dan pengurangan
tidak langsung pada piutang usaha melalui kenaikan akun penyisihan dalam
periode dimana penjualan itu dicatat. Metode penghapusan tidak langsung
mencatat beban atas dasar estimasi dalam periode akuntansi dimana penjualan
kredit dilakukan atau pada saat munculnya nilai piutang di neraca.
Perusahaan akan mendebetkan kerugian piutang tak tertagih pada
cadangan piutang tak tertagih. Dan apabila piutang tersebut sudah dipastikan
tidak dapat ditagih kembali maka perusahaan akan membebankan cadangan piutang
tak tertagih pada piutang usaha.
Beban piutang tak tertagih harus dicatat pada periode yang sama
seperti penjualan untuk mendapatkan perbandingan yang tepat atas beban dan
pendapatan serta untuk mendapatkan nilai yang tepat atas piutang. Walaupun
menggunakan estimasi, persentase piutang yang tidak akan tertagih dapat
diramalkan dari pengalaman masa lalu, kondisi penjualan berjalan dan analisis
saldo piutang yang beredar.
Banyak perusahan membuat kebijakan kreditnya dengan menciptakan
piutang tak tertagih dalam presentase tertentu. Karena ketidak tertagihan
piutang dipandang sebagai kontijensi kerugian, maka metode penyisihan hanya
tepat dalam situasi dimana terdapat kemungkinan bahwa nilai aktiva telah
menurun dan jumlah penurunan atau kerugian tersebut dapat diestimasi secara
layak. Estimasi ini biasanya dibuat atas dasar presentase penjualan atau
piutang yang beredar.
Apabila piutang yang sudah dihapus diterima kembali
pembayarannya, maka piutang yang sudah dihapus dimunculkan kembali di debet dan
mengkreditkan cadangan kerugian piutang. Pada saat penerimaan piutang dari
pelanggan maka perusahaan kembali mengkreditkan piutang tersebut sesuai dengan
nilai nominal yang diterima.
3.2
SISTEM PENGENDALIAN INTERN ATAS PIUTANG
3.2.1
Tujuan Sistem Pengendalian Intern atas Piutang
Pemberian piutang dimaksudkan untuk meningkatkan volume
penjualan bagi sebuah perusahaan. Diharapkan dengan meningkatnya volume
pejualan, maka sebuah perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Namun ada
beberapa resiko atas keberadaan piutang itu sendiri yang dapat merugikan
perusahaan. Oleh karena itu perlu adanya pengendalian terhadap piutang
tersebut.
Untuk mengendalikan piutang, sebuah
perusahaan perlu menetapkan kebijakan kreditnya. Kebijakan ini kemudian
berfungsi sebagai standar. Apabila kemudian dalam pelaksanaan penjualan kredit
dan pengumpulan piutang tidak dilakukan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan, maka perusahaan perlu melakukan perbaikan.
Adapun
tujuan melakukan pengendalian intern piutang adalah sebagai berikut :
1.
Meyakini kebenaran jumlah
piutang yang ada yang benar-benar menjadi hak milik perusahaan.
2.
Meyakini bahwa piutang
yang ada dapat ditagih (collectable).
3.
Ditaatinya
kebijakan-kebijakan mengenai piutang.
4.
Piutang aman dari
penyelewengan.
5.
Diyakini bahwa kinerja
perusahaan baik dan jauh dari kecurangan
6.
Diyakininya tentang
kebenaran laporak keuangan atas saldo piutang
3.2.2
Karakteristik Sistem Pengendalian Intern atas Piutang
Output dari sistem pengendalian intern piutang adalah berupa
informasi dalam bentuk laporan keuangan atau laporan manajemen lain, sehingga
karakteristik sistem pengendalian intern piutang identik dengan karakteristik
informasi. Seperti yang telah diungkapkan oleh Romney,dkk karakteristik
informasi yang baik adalah :
·
Relevan
·
Reliable
·
Complete
·
Timelines
·
Understandable
·
Verrifyable
3.2.3
Sistem Pengendalian Intern atas Piutang
Pada prinsipnya sistem pengendalian harus meminimalkan dan
mendeteksi serta memperbaiki kesalahan ketika terjadi. Pelaksanaan sistem
pengendalian intern untuk piutang harus menghasilkan suatu kepastian bahwa
semua transaksi piutang telah dibukukan dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pengendalian intern terhadap piutang
dimulai dari penerimaan order penjualan terus ke persetujuan atas order,
persetujuan pemberian kredit, pengiriman barang, pembuatan faktur, verifikasi
faktur, pembukuan piutang, penagihan piutang, yang akhirnya akan mempengaruhi
saldo kas atau bank. Dalam hal ini harus diperhatikan pula retur penjualan
secara periodik harus dibuat perincian piutang menurut golongan usianya untuk
menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan dan menilai apakah bagian kredit
dan bagian inkaso telah bekerja dengan efisien.
Adapun
sistem pengendalian intern atas piutang secara keseluruhan antara lain sebagai berikut
·
Memisahkan fungsi
pegawai atau bagian yang menangani transaksi penjualan (operasi) dari “ Fungsi
Akuntansi Untuk Piutang “
·
Pegawai yang menangani akuntansi piutang, harus
dipisahkan dari fungsi penerimaan hasil tagihan piutang
·
Semua transaksi pemberian kredit, pemberian potongan dan
penghapusan piutang, harus mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang.
·
Piutang harus dicatat dalam buku-buku tambahan piutang
(Accounts Receivable Subsidiary Ledger)
·
Perusahaan harus membuat daftar piutang
berdasarkan umurnya (Aging Schedule).
·
Memeriksa penggunaan formulir bernomor urut tercetak
dan pertanggungjawaban formulir tersebut.
·
Mengambil sampei memo kredit dan melakukan pengusutan
ke dokumen dan
catatan akuntansi.
catatan akuntansi.
·
Memeriksa adanya pengecekan independen terhadap
posting ke buku pembantu
3. PENGUJIAN PENGENDALIAN TRANSAKSI POTONGAN PENJUALAN
Definisi Potongan
Harga
Potongan Penjualan barang merupakan
Potongan yang diberikan penjual kepada pembeli atas penjualan barang dagangan
secara kredit denagn syarat saat penerimaan pembayaran masih dalam rentan waktu
yang mendapatkan potongan harga.
Dalam kegiatan pembelian dan penjualan barang
dagangan, pihak yang terlibat dalam perdagangan mengajukan syaratsyarat yang
disepakati bersama (pembeli dan penjual), baik syarat penyerahan barang
(pengiriman barang) maupun syarat pembayaran barang (pelunasan jika transaksi
dilakukan secara kredit). Ada dua syarat yang dilakukan penjual untuk
menyerahkan barang kepada pembeli, yaitu:
a. FOB Shipping Point (franco gudang penjual)
artinya beban angkut barang sejak dari gudang penjual
sampai dengan gudang pembeli menjadi tanggung jawab pembeli. Sehingga syarat
ini akan menimbulkan beban angkut pembelian artinya beban angkut yang timbul
akibat pembelian barang dagangan dari penjual.
b. FOB Distinationt Point (franco gudang pembeli)
artinya beban angkut barang sejak dari gudang penjual
sampai dengan gudang pembeli menjadi tanggung jawab penjual. Sehingga syarat
ini akan menimbulkan beban angkut penjualan artinya beban angkut yang timbul
akibat penjualan barang dagangan kepada pembeli.
2. Syarat
Pembayaran Barang
Dalam perjanjian jual beli barang dagangan terdapat
beberapa syarat pembayaran, antara lain sebagai berikut.
a) Tunai atau kontan
artinya pembayaran dilakukan saat terjadi transaksi,
baik secara langsung (dengan uang tunai) maupun pembayaran dengan cek atau giro
bilyet.
b) n/30 (n adalah singkatan dari netto)
artinya pembayaran dilakukan paling lambat 30 hari
setelah terjadinya transaksi.
n/EOM (End
of Month)
artinya pembayaran dilakukan paling lambat akhir
bulan.
c) n/10 EOM
artinya pembayaran dilakukan paling lambat 10 hari
setelah akhir bulan.
d) 2/10, n/30
artinya bila pembayaran dilakukan dalam waktu kurang
atau sama dengan 10 hari setelah tanggal transaksi, terdapat potongan 2%,
jangka waktu kredit 30 hari.
e) Syarat
EOM (End of Month)
Artinya
harga bersih faktur harus dilunasi paling lambat pada akhir bulan dan pihak
penjual tidak memberi potongan tunai kepada pembeli
f)
Syarat 2/15 EOM
Artinya
adalah jika pembayaran dilakukan dalam waktu 15 hari maka pembeli akan
mendapatkan potongan 2 %, sedangkan pembayaran dilakukan selambat-lambatnya
pada akhir bulan.
Sistem Pengendalian atas transaksi Potongan
Penjualan
Adapun
sistem pengendalian intern atas Potongan Penjualan antara lain sebagai
berikut
·
Memisahkan fungsi
pegawai atau bagian yang menangani transaksi penjualan (operasi) dari “ Fungsi
Akuntansi Untuk Piutang “
·
Pegawai yang menangani akuntansi piutang, harus
dipisahkan dari fungsi penerimaan hasil tagihan piutang
·
Semua transaksi pemberian kredit, pemberian potongan dan
penghapusan piutang, harus mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang.
·
Piutang harus dicatat dalam buku-buku tambahan piutang
(Accounts Receivable Subsidiary Ledger)
·
Perusahaan harus membuat daftar piutang
berdasarkan umurnya (Aging Schedule).
Adapun tujuan melakukan pengendalian intern transaksi potongan
penjualan adalah :
1.
Meyakini kebenaran jumlah
piutang yang ada yang benar-benar menjadi hak milik perusahaan.
2.
Meyakini bahwa kewajaran
dan kebenaran tenta g laporan keuangan
3.
Ditaatinya
kebijakan-kebijakan mengenai piutang.
4.
Piutang aman dari
penyelewengan.
Akun-Akun
Khusus dalam Perusahaan Dagang
Dalam perusahaan dagang terdapat
akun-akun khusus yang tidak dijumpai pada perusahaan jasa. Akun-akun khusus
yang biasanya terjadi pada perusahaan dagang antara lain sebagai berikut.
1. Akun
pembelian barang adalah akun yang digunakan untuk membeli barang dagangan baik
secara tunai maupun secara kredit, jika pembeliannya secara kredit akan
menimbulkan utang dagang.
2. Akun
penjualan barang adalah akun yang digunakan untuk menjual barang dagangan, baik
secara tunai maupun secara kredit. Jika penjualannya dilakukan secara kredit,
maka akan menimbulkan piutang dagang.
3. Akun retur
pembelian dan pengurangan harga adalah akun yang timbul karena mengembalikan
sebagian barang yang telah dibeli kepada penjual karena rusak atau tidak sesuai
dengan pesanan.
4. Akun retur
penjualan dan pengurangan harga adalah akun yang timbul karena menerima kembali
sebagian barang yang telah dijual dari pembeli karena rusak atau tidak sesuai
dengan pesanan.
5. Akun utang dagang
adalah akun yang terjadi karena membeli barang dagangan atau aktiva lain secara
kredit dan melunasi kewajiban atas pembelian secara kredit.
6. Akun piutang
dagang adalah akun yang digunakan untuk menjual barang dagangan secara kredit
dan menerima pelunasan piutang atas penjualan secara kredit.
7. Akun
potongan pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang
diterima pembeli karena melunasi utang dalam masa potongan.
8. Akun
potongan penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang
diberikan oleh penjual karena menerima pelunasan piutang dalam masa potongan.
9. Akun beban
angkut pembelian adalah akun yang timbul karena pebayaran beban angkut barang
dagangan yang ditanggung pembeli.
10. Akun beban
angkut penjualan adalah akun yang timbul karena pembayaran beban angkut untuk
mengirim barang yang ditanggung oleh penjual.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Mulyadi : Sistem
Pengendalian Internal meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran
yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen.
2.
COSO (The Committee
of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) :Pengendalian Internal adalah sebuah proses yang dihasilkan oleh
dewan direktur, manajemen dan personel lainnya, yang didesain untuk memberikan
jaminan yang masuk akal yang memperhatikan tercapainya tujuan-tujuan dengan
kategori sebagai berikut :
Efektif
dan efisisiensinya operasi
Terpercayanya
(Reliabillity) Laporan Keuangan
Tunduk
pada hukum dan aturan yang berlaku
Dari beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, pengendalian
intern atau kontrol intern didefinisikan sebagai suatu proses,
yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan
sistem teknologi informasi,
yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif
tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan,
mengawasi, dan mengukur sumber
daya suatu
organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud)
dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan)
maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual sepertimerek
dagang).
Pengujian dan
pengendalian transaksi penyesuaian seperti :
1. Transaksi
retur penjualan
2. Potongan
Harga
3. Piutang
tak tertagih
Pengendalian
terhadap transaksi tersebut diatas sangatlah penting, selain untuk menilai
kekayaan bersih perusahaan, juga digunakan sebagai tolak ukur kemajuan
perusahaan dan likuiditas perusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Mulyadi. Sistem
Akuntansi. Edisi ke-3 Jakarta : PT Salem Empat , 2001
Ikatan Akuntan
Indonesia, Kompartemen Akuntan Publik. Standar Profesional Akuntan Januari, 2001. Jakarta : PT Salema Empat 2001
Boyton, William C,.
Wallter G.Kell.Modern Auditing.Sixt editon ,1996
Horngen,
charles.sundem, 1998. Pengantar Akuntansi Keuangan . Buku 1 dan 2. PT Salemba Empat. Jakarta
Mc. Leod, Raymon.
1996. Sistem Information Management. PT Prenhalindo. Jakarta
S.R.Soemarso, 1990
. Akuntansi Suatu Pengantar 1, Yogyakarta : BPFE
Suwardjono, 1989 .
Akuntansi, Pengantar , buku 1 dan 2 Edisis ke-3, Jakarta: renika cipta
Castalie, Tania. 2011. Akuntansi Perusahaan
Dagang, (http://taniacastalie.wordpress.com), diakses tanggal 21 April 2011.